Rabu, 21 November 2012

Bukittinggi The Dreamland of West Sumatera



      Sejarah Kota Bukitinggi


Kota Bukittinggi mulai berdir seiring dengan kedatangan Belanda yang kemudian mendirikan kubu pertahanan pada tahun 1825 pada masa Perang Padri di salah satu bukit yang terdapat dalam kota ini dikenal sebagai Benteng Fort De Kock, sekaligus menjadi tempat peristirahatan opsir-opsir Belanda yang berada di wilayah jajahannya. Kemudian pada masa pemerintahan Hindia Belanda , Kawasan Ini selalu ditingkatkan perannya dalam ketatanegaraan yang kemudian berkembang menjadi sebuah kota, dan juga berfungsi sebagai ibukota Afdeeling Padangsche Bovenladen dan Onderafdeeling Oud Agam.
Pada masa kependudukan Jepang, Kota Bukittinggi dijadikan sebagai pusat pengendalian pemerintahan militernya untuk kawasan sumatera,bahkan sampai ke Singapura dan Thailand, dimana pada kota ini menjadi tempat kedudukan militer ke 25 Kenpeitai, di bawah pimpinan Mayor Jenderal Hirano Tayoji. Kemudian kota ini berganti nama dari Stadsgemeente Fort De Kock menjadi bukittinggi Si Yaku Shoyang daerahnya diperluas dengan memasukkan nagari-nagari sekitarnya yang sekarang nagari-nagari itu menjadi wilayah Kabupaten Agam.
Setelah kemersekaan Indonesia, Bukittinggi ditetapkan sebagai wilayah pemerintahan kota berdasarkan ketetapan Gubernur Provinsi S  umatera No. 391 tanggal 9 Juni 1947, sekaligus menjadi ibukota Provin si Sumatera waktu itu, dengan Gubernurnya Mr. Teuku Muhammad Hasan.
Pada masa mempertahankan Kemerdekaan Indonesia, Kota Bukittinggi berperan sebagai Kota Perjuangan, di mana pada tanggal 19 Desember 1948, kota ini ditunjuk sebagai ibukota Negara Indonesia setelah Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda atau dikenal dengan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).
  Letak Kota Bukittinggi
Kota Bukittinggi terletak pada rangkaian Bukit Barisan yang membujur sepanjang Pulau Sumatera, dan dikelilingi oleh 2 gunung berapi yaitu Gunung Singgalang dan Gunung Merapi. Kota ini berada pada Ketinggian 909-941 meter di atas permukaan laut, dan memiliki hawa cukup sejuk dengan suhu sekita 16,1-24,90C. Sementara dari total luas Wilayah Kota Bukittinggi saat ini (25,24 km2), 82,8% telah diperuntukkan menjadi lahan budidaya, sedangkan sisanya merupakan hutan lindung.
Kota ini memiliki topografi berbukit-bukit dan berlembah, beberapa bukit tersebut tersebar dalm wilayah perkotaan, diantaranya Bukit Ambacang, Bukit Tambun Tulang, Bukit Canggang, Bukit Paninjauan dan sebagainya. Sementara terdapat lembah yang dikenal juga dengan Ngarai Sianok dengan Kedalaman yang bervariasi antara 75-110m, yang di dasarnya mengalir sebuah sungai yang disebut dengan Batang Masang.
  Tempat Wisata Kota Bukittinggi
      Ngarai Sianok
Ngarai Sianok merupakan suatu lembah yang indah, hijau dan subur. Didasarnya mengalir  sebuah sungai yang berliku-liku menelusuri celah-celah tebing dengan latar belakang Gunung Merapi dan Gunung Singgalang.


     Lubang Jepang
Lubang ini sebenarnya lebih tepat disebut terowongan (Bunker) Jepang. Dibangun tahun 1942 untuk kepentingan pertahanan tentara Jepang dalam PD II dan Perang Asia Timur Raya atas pemerintah militer Angkatan Darat Jepang untuk Sumatera berkedudukan di Bukittinggi dengan komandan tentara pertahanan sumatera Jend. Watanabe. Terakhir Komandemen  militer se sumatera dipimpin oleh Seiko Seikikan Kakka yaitu Jend. Kabayashi, walikota terakhir Sito Ichiro. Lubang ini memilikim panjang sekitar 1400 m dan lebar ± 2 m. Kita dapat masuk ke Lubang Jepang ini dan dengan menelusurinya kita akan merasakan sensasi yang unik. Didalamnya terdapat ruang makan, ruang minum, ruang penyiksaan, dapur dan ruang persenjataan. Pintu masuk Lubang Jepang ini terdapat di beberapa tempat seperti di tepi Ngarai Sianok, Taman Panorama, dan disamping Istana Bung Hatta atau Tri Arga.

      Jam Gadang
Jam Gadang adalah nama untuk menara jan yang terletak di pusat Kota Bukittinggi, Sumatera Barat Indonesia. Menara jam ini memiliki jam dengan ukuran besar di empat sisinya sehingga dinamakan Jam gadang, sebutan Bahasa Minangkabau yang berarti “Jam besar”.
Selain  sebagai pusat penanda kota bukittinggi, Jam Gadang juga telah dijadikan objek wisata dengan diperluasnya taman disekitar menara jam ini. Taman tersebut menjadi ruang interaksi masyarakat naik di hari kerja maupun di hari libur. Acara-acara yang sifatnya umum biasanya diselenggarakan di sekitar taman dekat menara jam ini.



      Rumah Kelahiran Bung Hatta
Salah satu objek wisata budaya adalah rumah kelahiran Bung Hatta, rumah ini adalah tempat lahirnya Bung Hatta yang merupakan salah satu tokoh nasional dan internasiona, seorang pejuang dan proklamator kemerdekaan Indonesia. Rumah ini berlokasi di Jalan Soekarno Hatta . Di dalamnya juga terdapat foto-foto kenangan Bung Hatta dan Keluarga.

      Museum Tri Daya Eka Dharma
Di depan Taman Panorama terdapat sebuah museum yang bernama Museum Tri Daya Eka Dharma. Museum ini merupakan salah satu sarana komunikasi antar generasi untuk mewariskan nilai-nilai Juang 45. Di Museum ini dapat kita saksikan peninggalan sejarah seperti pesawat, senjata, sarana komunikasi serta foto perjuangan sewaktu melawan penjajah belanda dan Jepang dan lain sebagainya.

      Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan
Taman marga satwa dan budaya kinantan atau yang lebih dikenal dengan Kebun Binatang. Objek wisata ini dibangun tahun 1900 oleh seorang berkebangsaan Belanda yang bernama Controleur Storm Van Govent . kemudian pada tahun 1929 dijadikan kebun binatang oleh Dr. J. Hock dan merupakan satu-satunya kebun binatang yang ada di sumatera Barat, dan merupakan Kebun Binatang tertua di Indonesia.

      Benteng Fort De Kock
Benteng ini didirikan oleh Kapten Bouer pada tahun 1825 pada masa Baron Hendrik Markus De Kock sewaktu menjadi komandan Der Troepen dan Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Karena itu benteng ini dikenal dengan nama Benteng Fort De Kock.


      Jembatan Limpapeh
Sebagai Penghubung Kebun Binatang dan Benteng Fort De Kock maka terdapat sebuah jembatan yang bernama Jembatan Limpapeh yang dibangun dengan konstruksi beton dengan arsitektur atap yang berbentuk gonjong khas rumah adat Minangkabau. Jembatan ini berdiri di atas Jalan Ahmad Yani dan dari sini kita dapat menyaksikan keindahan alam Bukittinggi dan keramaian Jalan A. Yani.



Demikian sekilas mengenai Kota Bukittinggi, semoga kalian berminat untuk berkunjung dan menghabiskan liburan di Kota Bukittinggi. ^_^









               


1 komentar: